Ki.H.Anom suroto

Ki.H.Anom suroto
dalang kesukaanku

Kamis, 31 Desember 2009

Bimo Kurdho : Video

Silahkan menikmati di bumiprabu youtube lakon Bimo Kurdho oleh Ki Enthus Susmono

Bimo Kurdho (Pandu Swargo)

Berikut adalah lakon oleh dalang Ki Enthus Susmono dari Tegal dengan mengambil lakon Bimo Kurdho atau Pandhu Swargo. Kisah tentang “pembangkangan” Pandawa terhadap Dewa yang “menyiksa” Pandu, ayah para Pandawa, setelah kematiannya.

Berikut saya kutip beritanya di malangraya

Gelar Wayang, Pandu Swargo Jadi Lakon

19 Oktober 2008

Peringatan HUT Kota Batu ke 7, Jumat (17/10) malam lalu disemarakkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Pagelaran yang dihelat di pelataran Pendopo Pemkot Batu itu mendatangkan dalang Ki Enthus Suswono bersama Paguyuban Tari Satria Laras dari Tegal Jawa Tengah. Lakon yang dimainkan adalah Pandu Swargo.

Acara itu dihadiri ratusan warga Kota Batu termasuk Wali Kota Batu Eddy Rumpoko berserta istri Ny

Dewanti Rumpoko, Wawali HM Budiono, serta jajaran Muspida Kota Batu dan anggota Dewan. Hadir pula Ny Endang Imam Kabul isteri mendiang mantan Walikota Batu pertama Imam Kabul.

“Pagelaran ini untuk lebih mendekatkan warga Kota Batu dengan pejabat di jajaran Pemkota Batu dan anggota dewan. Karena acara ini murni kami persembahan untuk warga Kota Batu. Tidak lupa, dalam momen paling baik ini, secara khuhus kami mengucapkan penghargaan setinggi-tinggi kepada almarhum Walikota Imam Kabul sebagai tokoh berdirinya Kota Batu,” ujar Walkot, Eddy Rumpoko dalam sambutannya.

Sementara itu Ketua DPRD Kota Batu, Mashuri Abdul Rokhim mengulas banyak sejarah perjalanan Kota Batu. Mulai perjuangan ‘berpisah’ dari induknya Kabupaten Malang hingga memasuki usia tujuh tahun. Sebelumnya secara khusus Ki Enthus menghadiahkan tokoh pewayangan tertua Pandawa Lima, Puntodewo kepada Wali Kota Eddy Rumpoko dan Werkudoro kepada Wawali HM Budiono.

“Saya gambarkan Pak Eddy Rumpoko ini ibaratnya lakon Puntodewo yang tak banyak bicara dan menjadi tempatnya ‘berobat’ bagi mereka yang ingin sembuh dari segala macam penyakit kehidupan. Sedangkan Pak Budiono, ibarat Werkudoro, adalah dwi tunggal-nya wali kota yang terpisahkan dalam membangun Kota Batu,” ujar Ki Enthus.

Dalam kesempatan itu, secara khusus Eddy menyerahkan Gunungan kepada dalang asal Tegal tersebut. Disusul penyematan pin HUT Kota Batu ke 7 oleh Ny Dewanti Rumpoko kepada Ny. Endang Imam Kabul, Wali Kota, dan Dalang.

Lakon ‘Pandu Swargo’ diibaratkan sebuah lakon perjuangan warga Kota Batu berjuang dari bawah hingga berusia tujuh tahun seperti sekarang ini. Disebutkan lakon tersebut mengisahkan ketika Prabu Pandu ayah para Pandawa Lima yang bersikap lupa diri terhadap Dewi Madrim menuai amrah para Dewata.(nov/eno) (Muhaimin/malangpost)


Audionya dapat dinikmati disini, sengaja saya split per cd agar tidak terlalu besar ukuran filenya.

Ebook Wahyu Cakraningrat

Bagi yang ingin membaca cerita Wahyu Cakraningrat, silahkan berkunjung ke wayangpustaka.

lesmana_mandrakumara_solosamba_soloabimanyu_solo

Semar Medar Sabda

Koleksi ini sebenarnya sudah lama dan kalau nggak salah pernah saya unggah di blog almarhum. Saya sudah tampilkan juga judulnya di halaman “Ki Juwito Gendeng”, namun beberapa lama saya sempat kehilangan CDnya.

Akhirnya kemarin saya temukan lagi VCDnya dan akhirnya saya bisa sharing untuk Anda semua. Mohon maaf saya haturkan bagi yang telah lama menunggu lakon ini.

Ki Juwito memang dalang gendeng. Beliau memasukan entertain modern di setiap pagelarannya. Background layar tidak melulu putih saja, ada berbagai gambar disana seperti langit, hutan dll. Permainan cahaya dan sound juga spektakuler.

Untuk sementara saya sharing audionya dulu, Semar Medar Sabda.

Juwito Gendeng 1

Juwito Gendeng 2

Filed under: Ki Juwito Gendeng | Tagged: , | Leave a

14.Ki Purbo Asmoro

ki-purbo-asmoro-2

Audio pagelaran wayang oleh Ki Purbo Asmoro :

  1. Bimo Bumbu

tug-of-war1

PURBO ASMORO, S Kar. M. Hum. (1961 - ) Banyak penggemar yang mananyakan nama aslinya pada berbagai kesempatan berjumpa. Padahal nama aslinya atau nama kecil pemberian orang tuanya ya Purbo Asmoro itu. Lahir di Pacitan, 17 Desember 1961. Tinggal di Gebang, Kadipira, Surakarta. Seorang dalang Wayang Kulit Purwa yang mulai terkenal sejak tahun 1990-an. Keahliannya diwarisi dari ayahandanya yang juga seorang dalang.

Kemampuannya itu lalu diasah secara akademis di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, lalu dilanjutkan di Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta, lulus tahun 1986. Setelah lulus mengabdikan diri sebagai dosen di STSI Surakarta. Saat ini (2002) sedang menyelesaikan studi S.2-nya di Kajian Seni Pertunjukan UGM.Mulai tampil mendalang dimuka umum sejak usia 17 tahun, Purbo Asmoro pernah menjadi Juara I pada Lomba Dalang se-Jawa Tengah, tahun 1992. Ia juga menjadi dalang unggulan pada Festival Greget Dalang 1995. Walaupun berdomisili di Surakarta namun penggemar terbanyaknya justru dari wilayah Jawa Timur.

Dalang yang aktif dalam kepengurusan Ganasidi (Lembaga Seni Pedalangan Indonesia) dan Yayasan Sesaji Dalang, ini pernah pula melawat ke berbagai negara guna mempertunjukkan ketrampilannya mendalang. Antara lain ia pernah ke Inggris, Austria dan Yunani.

Dirinya merasa gagal dalam pertunjukan jika tidak bisa menjalin komunikasi dengan penontonnya. Bisa jadi tingkat apresiasi penontonnya yang kurang baik atau dirinya kurang jeli dalam menganalisa tingkat apresiasi, kondisi sosial dan keinginan penonton setempat.

Sikapnya yang rendah hati, selalu menjawab bahwa dirinya tidak mempunyai suatu kelebihan yang dibanggakan. Jika ditanya apa kelebihan pakelirannya? Ki Purbo Asmoro selalu berusaha untuk bisa menguasai semua-unsur-unsur pakeliran secara merata, tidak ada yang diistimewakan atau gothang ‘cacat’. Kiat keberhasilannya dalam mengolah dan mendramatisasi lakon-lakon adalah dengan banyak menyelami masalah hidup dan kehidupan. Dan banyak belajar dengan para seniman. Suka menonton pakeliran dalang-dalang yang lain, walau dalang tersebut tidak terkenal sekalipun.

Menurut Ki Purbo, setiap dalang mempunyai suatu yang khas yang bisa memberikan ispirasi untuk menggarap pakeliran.
Dalam pementasannya didukung oleh kelompok kerawitan “Mayangkara” yang anggotanya kebanyakan adalah mantan anggota Condhong Raos, Ki Nartosabdho. Walau ia piawai dalam menyusun iringan garap pakeliran dalam mendukung suasana, namun belum pernah menghasilkan sebuah karya gending atau lagu.

Pendapatnya tentang reformasi bahwa dari segi keterbukaan dan kebebesan lebih dapat memicu kreativitas dalam berkarya. Sebagai seorang dalang harus berpijak diatas semua kelompok dan golongan. Karena pedalangan adalah menyajikan kesenian yang menggarap nilai-nilai kemanusiaan secara universal.

http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/313/PURBO_ASMORO_S_Kar._M._Hum._

04.Ki Manteb Sudharsono

manteb-sudharsono

Audio pagelaran wayang oleh Ki Manteb Sudharsono :

  1. Babad Wanamarta
  2. Bimo Suci
  3. Gatotkaca Gugur
  4. Kresno Gugah
  5. Dewi Sri Boyong
  6. Sesaji Rajasurya
  7. Gatotkaca Wisuda
  8. Pendowo Syukur

tug-of-war1

MANTEB SOEDHARSONO, KI (1948 - ), adalah seorang dalang Wayang Kulit Purwa yang mulai terkenal sejak tahun 1980-an. Ia berasal dari daerah Ndoplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Surakarta. Sebagai dalang, Manteb Sudharsono terkenal dengan sabetan-nya. Saking piawainya dia memainkan boneka wayang dengan segala variasi dan kelincahannya dia dijuluki Dalang Setan oleh para penggemarnya. Kalau sedang memainkan trik sabetan dengan cepat dan terampil layaknya sebagai tukang sulap.

Misalnya dalam ramainya perang tiba-tiba tokoh yang tadinya terdesak “sim salabim” tahu-tahu memegang senjata dan ganti memukul lawannya. Tidak ayal penontonpun memberikan aplous yang gemuruh. Menurutnya semua itu bukan sulap bukan sihir, namun karena ketekunan melatih kecepatan gerak tangan dan kemampuan mengalihkan perhatian penonton. Untuk keperluan keberhasilan sabetnya maka dia sangat kreatif dan sangat teliti mendesain wayangnya. Mulai dari ketebalan kulitnya, pola hiasannya, gapitan sampai wandanya.

Pernah dia mengganti gapit tokoh Bima sampai 16 kali, sampai tercapai kemantapan keseimbangan yang dia inginkan. Tidak jarang dia memberikan petunjuk langsung pada para pembuat wayangnya bidang mana yang harus mendapat perhatian khusus untuk ketebalan kerokan kulitnya. Misalnya untuk tokoh Arjuna dalam keperluannya perang kembang, kalau perlu daerah pundak dan lengan atas setebal “triplek”, begitu sarannya. Untuk wayang-wayang khusus, misalnya untuk menciptakan geter, getap dan ketepatan wanda Baladewa misalnya, Pak Manteb selalu terlibat dari mulai mendesain pola, ngerok, menatah, sungging dan paling penting adalah ulat-ulatan dan tentunya gapitannya. Semuanya harus tepat dalam presisi ukuran dan rasa kemantaban seni yang tepat dan lengkap. Artinya salah satu tidak boleh meleset. Mulai bedhahan, sunggingan, ulat-ulatan dan terakhir gapitan. Dalang lain boleh menganggap remeh hal gapitan, namun dia tidak. Bisa dikatakan dia adalah seorang dalang yang sekaligus ahli dalam bidang seni rupa wayang. Pengetahuannya yang mendalam, open dan teliti dalam bidang rupa wayang itu sangat mendukung keberhasilan pakelirannya, terutama dalam bidang sabet.

Dalang yang telah menunaikan ibadah haji ini, mulanya belajar mendalang pada ayahnya, lalu memperda-lamnya pada Ki Nartasabda di Semarang (1972) dan Ki Ganda Sudarman di Sragen (1974). Ia mulai mendalang di muka umum sejak usia 12 tahun.

Pada tahun 1982, Man-teb menjadi juara Pakeliran Padat se-Surakarta. Sejak itu namanya mulai menanjak. Dalam pemilihan Dalang Kesayangan pada Angket Wayang 93 dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI, Manteb Sudharsono menduduki peringkat kedua, di bawah Ki Anom Suroto Lebdocarito.

Dalang yang setiap bulan rata-rata pentas sepuluh hari ini, pernah melawat ke Spanyol, Jerman, Amerika Serikat, Swiss, Suriname, Prancis dan Jepang.

Sejak tahun 1983, ia melakukan kegiatan pribadi, yaitu nanggap wayang di rumahnya, setiap hari Selasa Legi, bertepatan dengan hari wetonnya (weton adalah hari kelahiran menurut tradisi Jawa, diadakan setiap 35 hari). Acara ini kemudian dikenal dengan nama Malem Selasa Legen, menghadirkan dalang-dalang dari berbagai daerah. Kegiatan yang dimaksudkan untuk ikut melestarikan budaya pedalangan ini, hingga kini (1998) masih senantiasa dilakukan.

Karena pengabdiannya pada seni pedalangan, Ki Haji Manteb Soedharsono mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden.

Ki Manteb Soedharsono juga tercatat sebagai dalang yang paling laris sebagai peraga iklan radio dan televisi. Terkenal dengan slogannya “Oye”. Para penggemarnya sering memanggilnya dengan dalang oye atau dalang setan.

Pada awal 1998, Ki Manteb Soedharsono men-dalang pada pergelaran kolosal di Museum Keprajuritan Taman Mini Indonesia Indah, dengan lakon Rama Tambak. Pergelaran yang sukses ini mendapat dukungan dari pakar wayang STSI, yang menangani naskah ceritanya (Sumanto) dan tata gendingnya (B. Subono).

http://sudarjanto.multiply.com/journal/item/312/Ki_Manteb_Soedharsono_

01.Ki Nartosabdho

nartosabdho

Audio pagelaran wayang oleh Ki Nartosabdho :

  1. Anoman Obong
  2. Anoman Swargo
  3. Banjaran Bisma
  4. Banjaran Karna
  5. Bimo Bungkus
  6. Dewa Ruci
  7. Karno Tanding
  8. Lahire Gatotkaca
  9. Rama Tambak
  10. Salya Suyudana Gugur
  11. Semar mbarang jantur
  12. Sombo Juwing
  13. Sudamala (yang lengkap lihat di nomor 35)
  14. Sumantri Ngenger
  15. Wahyu Srimakutharama
  16. Narasoma
  17. Kresna Duta
  18. Goro-Gor0 1
  19. Gatotkaca Sungging
  20. Pandhawa Boyong
  21. Semar Kuning
  22. Parikesit Grogol
  23. Goro-Goro 2
  24. Babad Wanamarta
  25. Abimanyu Gugur
  26. Pandawa Gubah
  27. Gatotkaca Wisuda (Singo Barong)
  28. Karno Tanding (Singo Barong)
  29. Kresna Duta (Singo Barong)
  30. Bale Golo-Golo
  31. Bambang Sakri Kromo
  32. Sastra Jendrayuningrat (Alap-alap Sukesi)
  33. Bima Suci
  34. Arjuna Wiwaha
  35. Sudamala (lengkap)
  36. Bambang Partodewo
  37. Banuwati Janji
  38. Banjaran Arjuna I
  39. Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)
  40. Banjaran Druna
  41. Pandu Gugur (Pamuksa)
  42. Dasamuka Lena
  43. Kresna Gugah
  44. Gatotkaca Nagih Janji
  45. Sawitri (dan Satyawan)
  46. Pendawa Ngenger
  47. Babad Wanamarta (Live)
  48. Wiratha Parwa
  49. Sayembara Menthang Langkap
  50. Kumbakarna Lena
  51. WO – Goro-Goro
  52. Alap-alap Setyaboma
  53. Pendawa Nugraha
  54. WO – Petruk Kelangan Pethel
  55. Abimanyu Krama
  56. Kresna Kembang (Alap-alap Rukmini)
  57. Suluhan Gatotkaca Gugur
  58. Rama Tundhung
  59. Banjaran Harjuna II
  60. Narayana Jumeneng Ratu
  61. Kumbakarna Lena
  62. Dasamuka Lair

tug-of-war1

Sunarto nama aslinya, lahir di Wedi, Klaten, Jawa Tengah, tanggal 25 Agustus 1925 dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Partinojo seorang pembuat sarung keris. Oleh karena kemiskinannya ini Sunarto kecil tak dapat melanjutkan sekolahnya setelah putus sekolah angka “telu’ pada Standart School Muhammadiyah. Disudutkan pada situasi ekonomi yang sulit ini, Sunarto yang sudah beranjak remaja ikut menopang ekonomi keluarga dengan mencari uang melalui kemampuannya dalam bidang seni lukis. Merasa mampu pada bidang kesenian lainnya, dia pun kemudian turut memperkuat orkes keroncong “Sinar Purnama” sebagai pemain biola.

Minatnya yang besar pada dunia kesenian ini lebih tampak lagi ketika dia melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik. Terlebih-lebih setelah perkenalannya dengan Ki Sastrasabdho pada tahun 1945. Oleh pendiri Ngesti Pandowo ini Sunarto betul-betul ditempa kemampuannya dalam mengenali dan mendalami instrumen gendang.

Lewat Ki Sastrasabdho pula, Sunarto mengenal dunia pewayangan. Maka sejak itu pun Sunarto belajar mendalang . Antara Ki Sastrosabdho dan Sunarto adalah ibarat “Warangka manjing curuga, curiga manjing warangka”, keduanya adalah satu kesatuan sebagai anak dan bapak. Oleh karenanya kemudian Ki Sastrosabdho menganugerahi nama belakangnya kepada murid kinasihnya ini menjadi Nartosabdho.

Dari perjalanan hidupnya tersebut tampak bahwa Ki Nartosabdho telah melalui proses yang panjang dalam berkesenian . Jiwanya jadi kaya lantaran dipenuhi oleh pengalaman-pengalaman batin baik dalam hidup maupun dalam berkesenian.

Pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat telah memperkaya dirinya dengan berbagai pengetahuan, sampai-sampai Presiden Soekarno waktu itu menjadikan dirinya sebagai dalang kesayangannya.

Gending-gending Nartosabdhan

Perjalanan hidupnya yang liat dan panjang, terpancar jelas pada karya-karya gendhingnya yang memiliki karakter khas milik Ki Nartosabdho. Oleh sebab itu tak heran jika gendhing-gendhingnya mendapat istilah “Gendhing-gendhing Nartosabdhan”.

Ki Nartosabdho pula yang mendapat istilah sebagai seniman yang memiliki Tri Karsa Budhaya. Sebuah istilah yang dicetuskan oleh Sekretariat Pewayangan Indonesia itu memliki makna: Menggali, Mengembangkan, dan Melestarikan kebudayaan Nasional.

Dengan kesadaran Tri Karsa Budhaya inilah Ki Narto berjalan di belantara kesenian Indonesia . Beberapa lagu rakyat yang sempat dia gali antara lain, Kembang Glepang Banyumasan, Mijil Lelayu, Jurang Jugrug, Gudril dan lain-lain. Bersama perkumpulan Karawitan “Condong Raos” yang dia pimpin Ki Narto mengolah lagu-lagu kuna itu menjadi segar kembali.

Dalam melaksanakan Tri Karsa Budhaya ini Ki Narto bukannya tanpa mengalami rintangan, pada pertengahan pemunculannya bahkan sampai ada salah satu RRI yang tidak mau memutar gendhing-gendhing karyanya.

Namun dengan kegagahan seorang kreator yang tahan uji, Ki Narto malah tambah getol dalam mencipta dan berkreasi. Pandangannya yang moderat telah membuka wawasan berpikirnya lebih luas termasuk dalam mempelajari budaya Jawa.

Akhirnya, hampir pada setiap produk gendhing gendhingnya yang tersaji bersama perkumpulan karawitan “Condong Raos”, segera saja meledak di pasaran, terlebih lebih karena para dhalang yang sefaham dengan Ki Narto juga ikut mengembangkannya melalui seni pakelirin, maka otomatis gendhing-gendhing Nartosabdhan ini makin memasyrakat.

Sebut saja misalnya, siapa yang tak mengenal gendhing “Lesung Jumengglung”? atau juga gendhing Ampat Lima. Ditambah lagi di tahun-tahun akhir menjelang kepergiannya, Ki Narto juga menciptakan gendhing yang elok yakni Wawasan Identitas Jawa Tengah. Begitulah, gendhing-gendhing Nartosabdhan akhirnya menjadi air deras yang tak dapat dibendung. Dia mengalir terus menapaki waktu, bahkan hingga kini.

Sepertinya para seniman karawitan sepakat mengistilahkan karya-karya gending Ki Nartosabdho dengan sebutan gendhing-gendhing Nartosabdhan. Betapa tidak, dari dalang termasyur ini lahir ratusan karya gendhing yang menempatkan dirinya sejajar dengan seniman-seniman besar yang dimiliki oleh negeri ini.

Istimewa

Bukan cuma lantaran banyaknya jumlah karya yang telah dihasilkan (319 gending) sehingga gendhing-gendhingnya mendapatkan tempat yang istimewa di hati para seniman karawitan, budayawan, dalang maupun waranggana, namun secara kualitas nampaknya memang belum ada kreator lain yang mampu menandinginya.

Ini tak berlebihan, seperti yang saya ingat menjelang pemberangkatan jenazah Ki Narto dari rumah duka di Jalan Anggrek X, dari penuturan dalang Ki Anom Soeroto, Ki Timbul, Nyi Suharti, mereka mengaku bukan cuma kagum terhadap karya-karya almarhum, namun juga merasa pernah menjadi murid baik secara langsung maupun tak langsung dari seniman besar itu.

Adapun karakteristik yang terkandung di dalam gendhing-gendhing Nartosabdhan dapat ditandai lewat lagu lagu maupun gendhingnya yang berisi beberapa hal, misalnya, adanya unsur gregel seperti yang tertuang pada cakepan (syair) lagu Dhandhang Gula Sida Asih.

Adanya wiled (cengkok yang menunjukkan naik turunnya titi laras), hal ini nampak betul pada setiap lagu yang memasuki interlude. Sigrak, hampir setiap lagon (jenis gending yang terlepas dari Subokasto: Gending, Ketawang, Ladrang dan Lancaran), dan lain-lain, di dalamnya terkandung unsur dinamis yang merangsang orang yang mendengarnya untuk hanyut dalam lagu-lagu tersebut.

Sebagai contoh dari lagu yang memiliki unsur-unsur di atas misalnya tampak pada lagu kinudang Kudang. Lagu ini bukan saja memiliki unsur-unsur termaksud, namun juga memiliki keiistimewaan yang tak dimiliki oleh lagu-lagu lainnya, karena di dalam lagu ini terkandung pula obsesi pengarangnya kepada seseorang yang dikaguminya dari segi kemampuannya menyinden. Simaklah syair ini :

Kinudang kudang

Kinudang kudang tansah bisa leladi

Narbuka rasa tentrem angayomi

Tata susila dadi tepa tuladha

Sababe dek iku sarawungan kudu

Dadi srana murih guna kaya luwih

Ngrawuhi luhuring kabudayan

Tinulat sakehing bangsa manca

Rahayu sedya angembang rembaka

Jika kita urut dari atas ke bawah, maka akan berbunyi: Ki Nartosabdho – Ngatirah. Dan masih banyak lagi lagu-lagu sejenis di atas yang menurut saya juga berguna untuk menyelamatkan karya-karya Ki Nartosabdho dari para plagiat. Sebab ternyata, ia juga seorang seniman yang cerdik yang menyadari hak patent, jauh sebelum ada Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Lelayu, begitulah judul komposisi tua berjenis mijil yang dikreasi kembali oleh Ki Nartosabdho yang dibawakan oleh kelompok Condong Raos, grup gamelan pimpinan Ki Narto pada persemayaman tersebut.

Layu-layu, umiring sang kinkin,

sajroning patunggon sung sasanti sang dyah kamuksane

Nedya anut mring sang guru laki

Kang gugur madyaning palugon…

Mijil Lelayu terdengar, mengantarkan sang maestro ke alam kelanggengan. Lagu sedih itu telah menggugurkan sekalian tangis para budayawan, dalang, pengrawit, pesinden dan semua yang pernah dekat dengan sang kreator. Bahkan pengusaha jamu sekaligus musisi Jaya Suprana yang mengaku pernah belajar pada almarhum, tak lama setelah kepergian Pak Narto, menyempatkan diri menggubah sebuah komposisi berjudul Epitaph II bagi sang guru.

Nama : NARTOSABDO

Lahir : Klaten, Jawa Tengah, 25 Agustus 1925 (pn 7 Oktober 1985)

Agama : Islam

Pendidikan :

  • Standaard School Muhammadiyah
  • Akademi Seni Karawitan Indonesia, Solo

Karir :

  • Pembuat seruling
  • Pengantar susu
  • Pengusaha wayang kulit
  • Pemain Group Wayang Orang Ngesti Pandowo
  • Pemimpin Grup Wayang Orang Ngesti Pandowo
  • Dalang. Lagu-lagu keroncong dan langgam ciptaannya antara lain: Swara Suling, Ibu Pertiwi, Cluntang Binangun, Glopa-glape, Turi-turi Putih, Lumbung Desa, Lesung Jumengglung, Saputanganmu, Ayo Praon, Aja Lamis, dan Tahu-tahu Tempe

Sumber : jibis.pnri.go.id


Koleksi Wayang Kulit 3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar