Ki.H.Anom suroto

Ki.H.Anom suroto
dalang kesukaanku

Senin, 01 Februari 2010

Ki Hadi Sugito : Sengkuni Tundung

Berikut saya kutipkan sosok Sengkuni dari WIKI

Asal-Usul Versi Pewayangan

Dalam pewayangan, terutama di Jawa, Sangkuni bukan kakak dari Gandari, melainkan adiknya. Sementara itu Gandara versi pewayangan bukan nama sebuah kerajaan, melainkan nama kakak tertua mereka. Sangkuni sendiri dikisahkan memiliki nama asli Arya Suman.

Pada mulanya raja Kerajaan Plasajenar bernama Suwala. Setelah meninggal, ia digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Gandara. Pada suatu hari Gandara ditemani kedua adiknya, yaitu Gandari dan Suman, berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan Kunti, putri negeri tersebut.

Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Kerajaan Hastina setelah memenangkan sayembara Kunti. Pertempuran pun terjadi. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Suman menuju Hastina.

Sesampainya di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang bernama Dretarastra untuk dijadikan istri. Gandari sangat marah karena ia sebenarnya ingin menjadi istri Pandu. Suman pun berjanji akan selalu membantu kakaknya itu melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad akan menciptakan permusuhan di antara para Korawa, anak-anak Dretarastra, melawan para Pandawa, anak-anak Pandu.

Asal-Usul Nama Sangkuni

Menurut versi pewayangan Jawa, pada mulanya Suman berwajah tampan. Ia mulai menggunakan nama Sangkuni semenjak wujudnya berubah menjadi buruk akibat dihajar oleh Gandamana.

Read more »

Ki Hadi Sugito : Arimba Gugur

Prabu Arimba adalah raja Priggodani yang menggantikan ayahnya Prabu Trembaka yang tewas terbunuh saat bertempur melawan Prabu Pandu Dewanata, ayah para Pandawa. Rasa dendam yang begitu dalam untuk membalas kematian ayahnya terhadap Prabu Pandu, terpercik kembali setelah bertemu dengan para Pendawa yang diketahui sebagai anak turun Prabu Pandu. Hingga terjadilah pertempuran antara Arimba dan Bima.

Arimbi, yang adalah adik Arimba sebenarnya bermaksud mencegah pertentangan itu karena telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Bima nan gagah perkasa

Namun memang sudah harus terjadi bahwa akhirnya Arimba Lena

Warsina Slenk : Semar mBangun Kayangan

Sudah cukup banyak dalang yang mementaskan lakon Semar mBangun Kayangan. Namun masing-masing dalang tentu memiliki keunikan dan perbedaan dalam membawakannya.

Berikut saya sharing Ki Warsina Slenk dalam membawakan lakon itu, Semar mBangun Kayangan.

purboasmoro.com

Anda penggemar dalang Ki Purbo Asmoro ?

Purboasmoro-situs

Kunjungi situsnya di http://www.purboasmoro.com

Video Wayang Semar mBangun Kayangan

Video wayang Ki Sutono Hadi Sugito dengan lakon “Semar mBangun Kayangan”.

Ki Sutono HS 3

Ki Sutono HS 2

Ki Sutono HS 1

Silahkan nikmati disini.


Banjaran Cerita Pandawa (1)

Sumber : http://tembi.org

pandawa 01

Pagelaran Wayang Kulit Purwa, dari kata Parwa, yang diselenggarakan rutin di Tembi Rumah Budaya (foto: Barata)

Budaya pewayangan telah lama hidup dan berkembang. Istilah ringgit dan wayang telah lama didapat, antara lain ditemukan dalam kakawin Arjunawiwaha yang ditulis oleh Mpu Kanwa pada jaman pemerintahan raja Airlangga, abad sebelas (Poerbatjaraka, 1952:17), dan dalam kakawin Parthayajna pada jaman kerajaan Majapahit. (Zoetmulder, 1983: 462), abad 13-14. Jika menurut sumber cerita yang hidup sejak abad sembilan sampai abad empatbelas dapat diambil kesan, bahwa budaya pewayangan didukung oleh cerita yang berasal dari cerita yang bersumber sikles cerita Ramayana dan Mahabharata.

J.J. Ras mengatakan, bahwa panggung wayang kulit Jawa berkaitan erat dengan panggung wayang kulit Bali, yaitu jenis wayang yang biasa disebut wayang parwa, yaitu jenis wayang yang mementaskan cerita yang diambil dari parwa-parwa Mahabharata dan cerita Ramayana.(Ras, 1976:3).

Parwa-parwa Mahabharata Sansekerta banyak disadur dalam bahasa Jawa kuna. Antara lain: Adiparwa, Sabhaparwa, Aranyakaparwa, (Wanaparwa), Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Mausalaparwa, Prasthanikaparwa dan Swargarohanaparwa. Parwa lain yang sebagian besar isinya dimuat dalam kakawin Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh (Naskah Kirtya Nomor 1060), ialah: Dronaparwa, Karnaparwa, Salyaparwa, Gadaparwa, Aswathamaparwa, Stripralayaparwa, Santikaparwa, Aswamedaparwa dan Asramawasaparwa.

Beberapa bagian cerita Mahabharata ada yang dikembangkan dengan cara diolah, menurut fiksi dan daya kreasi pujangga penulisnya. Dalam karya sastra Jawa kuna, ditemukan beberapa buku sumber cerita yang isinya merupakan perkembangan dan pengolahan masalah yang dimuat dalam cerita Mahabharata. Cerita yang bersumber karya sastra Jawa kuna itu terus berkembang melalui sastra tulis dan sastra lesan. Pada jaman sesudah kerajaan Majapahit, yaitu pada jaman kerajaan Demak, sekitar abad limabelas, budaya pewayangan hidup dan berkembang pula. Sebuah kitab suluk karangan Sunan Bonang yang dikenal dengan nama Suluk Wujil, memuat kalimat yang isinya sebagai berikut.: ”Dalang Sari dari Pananggungan mewayang dengan cerita permulaan perang Bharatayudha, (Suluk Wujil: bait 90). Selanjutnya diceritakan makna kias Korawa dan Pandhawa. Pandhawa berada disebelah kiri dikiaskan sebagai nafi. Korawa berada disebelah kanan, dikiaskan sebagai isbat. Mereka berebut musbat (Suluk Wujil: bait 99-100)

Pada jaman kerajaan Mataram, Kartasura dan surakarta, cerita pewayanagn berkembang pesat sebagai salah satu hasil penciptaan jenis karya sastra pewayangan dan seni pertunjukan wayang kulit. Cerita sikles Arjunasasra, Rama dan Mahabharata banyak diolah menjadi karya sastra tulis. Banyak buku yang bermunculan yang dikarang semacam cerita roman simbolik, teks drama dan cerita pendek. Dengan menampilkan tokoh-tokoh wayang. Dalam pengembangan cerita Mahabharata, tokoh-tokoh Pandhawa dan Korawa menjadi pusat perhatian masyarakat. Cerita yang bertokoh Pandawa banyak mendapat perhatian, dan banyak disusun banyak cerita tentang tokoh-tokoh itu.

Read more »

Ki Manteb Sudharsono : Pendowo Syukur

Berikut adalah pagelaran wayang kulit oleh Dalang Setan Ki Manteb Sudharsono, live di Jombang dengan mengambil judul “Pendowo Syukur”.

manteb 1

Sementara saya sharing audionya dulu.

manteb 2

Silahkan dinikmati di sini.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar