Ki.H.Anom suroto

Ki.H.Anom suroto
dalang kesukaanku

Jumat, 05 Februari 2010

RADEN SETYAKI

Raden Setyaki

Raden Setyaki

Raden Setyaki putera Prabu Setyajid di Lesanpura, ia juga bernama Wresniwira karena merupakan putra Dewi Wresni, dan disebut juga kesatria Lesanpura. Walaupun Setyaki adalah putra mahkota yang akan menggantikan ayahandanya untuk memerintah di Lesanpura, tetapi ia memilih untuk pergi meninggalkan negerinya dan mengikuti iparnya, Prabu Kresna di Dwarawati, yang merupakan seorang titisan Betara Wisnu.
Di negeri Dwarawati Setyaki dianggap sebagai pahlawan, dan karena kesaktiannya, ia mendapat julukan Bimakunting, artinya Sang Bima (Bratasena) yang kerdil.Dalam perang Baratayuhda, Setyaki membinasakan banyak musuh dengan senjata, gadanya. Setyaki lanjut usianya hingga setelah perang Baratayudha.

BENTUK WAYANG

Raden Setyaki bermata kedondongan, hidung dan mulut semada, berkumis. Berkadal-menek, berjamang dengan garuda membelakang. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Berkalung bulan sabit. Kain kerajaan lengkap.
Setyaki berwanda 1 Mimis, 2 Wisuna dan 3 Kakik.

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.

PRABU DURYUDANA

Prabu Duryudana

Prabu Duryudana

Duryudana adalah putera Prabu Destarastra di Hastinapura, ia seorang Kurawa yang tertua. Korawa atau Kurawa berarti suku bangsa Kuru. Setelah dewasa Duryudana bertahta di Hastinapura bergelar Prabu Duryudana. Kurawa meskipun bersaudara misan dengan Pandawa namun senantiasa bermusuhan, hingga terjadi perang saudara, yang disebut Baratayudha. Negeri HHastinapurapura terhitung kerajaan besar, binatara, maka waktu perang Baratayudha dapat bantuan dari kerajaan lain. Sebenarnya Prabu Duryudana seorang yang sakti, tetapi tak pernah kelihatan kesaktiannya. Dalam perang Baratayudha ia bertanding dengan Raden Wrekudara. Prabu Duryudana tak dapat dikalahkan. Tetapi ketahuan oleh Wrekudara dari isyarat yang diberikan oleh Prabu Kresna dengan menepuk-nepuk paha kiri yang merupakan kelemahannya. Setelah dipupuh (dipukul) dengan gada, paha kirinya oleh Wrekudara, tewaslah ia. Kelemahan paha ini karena waktu muda Duryudana dimandikan dengan air sakti, ada bagian paha yang tertutup dengan daun beringin, maka tertinggallah bagian badan itu oleh air sakti yang membasahi seluruh badannya.
Prabu Duryudana menantu raja Mandraka, Prabu Salya. Mula-mula ia bertunangan dengan Dewi Erawati, Puteri Prabu Salya yang tertua, tetapi gagal karena puteri itu dicuri oleh Kartowiyoga, dan Prabu Duryudana mencari puteri itu tetapi gagal. Putri tersebut diketemukan oleh Raden Kakrasana, maka diperisterilah puteri itu oleh Kakrasana, yang kemudian jadi raja di Madura bernama Prabu Baladewa.
Kedua kali Prabu Duryudana bertunangan dengan puteri Prabu Salya yang kedua, bernama Dewi Surtikanti, tetapi puteri itu diperisteri oleb Raden Suryaputra, yang kemudian bernama Adipati Karna.
Ketiga kalinya, bertunangan dengan Dewi Banowati, puteri Prabu Salya yang ketiga, luluslah perkawinan ini. Namun sebenarnya, puteri Banowati tak suka pada Prabu Duryudana, karena Banowati berharap akan diperisteri oleh Raden Arjuna. Lantaran ini, Dewi Banowati .menurut juga dipermaisuri dengan Prabu Duryudana, tetapi dengan janji tak akan dilarang semasa Dewi itu bertemu dengan Arjuna sewaktu-waktu. Dikabulkanlah permintaan itu dan terlaksana pada waktu-waktu Banowati bertemu dengan Arjuna tak diganggu-gugat. Prabu Duryudana berputera Raden Lesmanamandrakumara dan Dewi Dursilawati.

BENTUK WAYANG

Prabu Duryudana bermata telengan, hidung dempak. Berjamang tiga susun dengan garuda membelakang besar, berpraba. Berkalung ulur-ulur. Bergelang, berpontoh dan berkeroncong. Kain bokongan kerajaan. Batik kain parang rusak barong, tanda kain pakaian bangsawan agung. Prabu Duryudana berwanda: Yangkung dan Jaka

Sedjarah Wayang Purwa, terbitan Balai Pustaka juga tahun 1965. Disusun oleh Pak Hardjowirogo.


Perselingkuhan Samba dan Dewi HagyanawatiFeb 1, '10 8:17 PM
for everyone
BATARA GURU

Usai menghadiri pesta pernikahan Prabu Boma Narakasura dengan Dewi Hagyanawati di istana Trajutrisna yang megah, hati Raden Samba kebat-kebit tak keruan, dirajam kegelisahan. Wayang berwajah flamboyan itu sudah berupaya melupakan wajah Dewi Hagyanawati yang terus menari-nari dalam bentangan layar memorinya. Namun, semakin dilupakan, wajah titisan Dewi Dermi itu makin keranjingan memburu dirinya. Sejak saat itu, Samba seperti berada di “dunia lain” yang terus melakukan pengembaraan batin bersama Dewi Hagyanawati.

Pihak security terpaksa harus aplusan menjaga kamar Samba karena dikhawatirkan akan kabur dari istana. Para penasihat spiritual harus suntuk berdiskusi untuk menemukan solusinya. Bos-bos paranormal dan para praktisi metafisika dari berbagai penjuru yang sangat fasih bicara soal “dunia gaib” pun diundang ke istana. Namun, Raden Samba tetap saja berperilaku aneh dan selalu menyebut-nyebut Hagyanawati.

Kejadian aneh itu tampaknya mengusik Batara Guru untuk turun tangan. Penguasa kahyangan yang mengklaim diri sebagai penjaga ketenteraman dan kedamaian hidup para kawula bumi itu seolah-olah merasa ikut bertanggung jawab terhadap kemelut yang mendera para pengagum cinta, apalagi melibatkan Hagyanawati yang dianggap sebagai titisan Dewi Dermi, kerabat dekat Jonggring Saloka. Sangat beralasan jika “dewa” yang punya hobi berselingkuh itu bersikukuh untuk menyambung tali cinta antara Samba dan Hagyanawati.

“Kasihan dia! Apa pun yang terjadi, Samba harus dipertemukan dengan Hagyanawati di Trajutrisna!” ujar Batara Guru dalam briefing kilat di paseban Jonggring Saloka yang juga dihadiri oleh para petinggi kahyangan. “Untuk itu, Ingsun titahkan pada Batari Wilutama untuk mempertemukan dua makhluk yang tengah kasmaran itu, bagaimanapun caranya. Ada pertanyaan?” lanjutnya sembari melirik wajah Batari Wilutama.

Entah, bagaimana caranya, Batari Wilutama sudah berada di kamar Samba, padahal di luar sana para prajurit mengawal ketat seluruh isi istana. Samba tersentak.

“Ingsun ingin mengajakmu menemui kekasihmu itu!”

“Benarkah? Tapi, bagaimana caranya?”

“Itu soal gampang! Yang penting, kamu sanggup apa tidak memenuhi syarat yang Ingsun ajukan?”

“Apa pun syaratnya, saya pasti sanggup!”

“Ok! Untuk ke Trajutrisna nanti, kamu akan Ingsun bawa lewat terowongan bawah tanah yang gelap supaya lebih aman. Syaratnya, kamu tidak boleh menoleh ke belakang, apa pun yang terjadi! Jika kamu langgar, Ingsun tak mau bertanggung jawab terhadap risiko yang akan kamu hadapi! Apakah kamu sanggup?”

“Kenapa tidak kalau hanya syarat semacam itu?”

“Ok, sekarang pejamkan matamu!”
SAMBA

Samba menuruti keinginan Batari Wilutama. Dalam sekejap, dia sudah berada di sebuah terowongan bawah tanah yang gelap dan sumpek. Setelah menempuh separo perjalanan, tiba-tiba dari arah belakang muncul cahaya terang benderang yang menyilaukan seisi terowongan. Karena penasaran, tanpa sadar, Samba balik kanan. Dia tertegun bukan main ketika menatap sebuah pemandangan yang menakjubkan. Cahaya itu ternyata bersumber dari vagina Dewi Wilutama. Samba makin terpesona saat menyaksikan sosok tubuh perempuan yang molek, mulus, dan sempurna tanpa cacat dalam keadaan telanjang bulat. Seumur-umur, baru ini kali dia menyaksikan panorama surgawi yang mengagumkan semacam itu. Lupalah dia pada persyaratan yang telah disanggupinya.

Alhasil, terowongan itu mendadak kembali gelap gulita. Samba baru sadar kalau dia telah berbuat kesalahan. Dalam keadaan tertatih-tatih, dia terus berjalan menyusuri terowongan yang licin, sumpek, dan berbau. Sesekali, kakinya tersandung batu, tubuhnya terguling-guling.

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, akhirnya Samba tiba juga di kamar Dewi Hagyanawati yang sejuk dan harum. Samba seperti terbebas dari sekapan neraka. Dewi Hagyanawati tersentak. Berulang-ulang, dia mengucak-ucak bola matanya.

“Benarkah ini Kanda Samba, pemuda yang selalu aku impikan siang dan malam?”

“Tidak salah, Dinda! Aku benar-benar Samba, pemuda yang tidak rela melihatmu hidup berumah tangga dengan Prabu Boma Narakasura yang rakus dan serakah!” jawab Samba sambil memeluk Dewi Hagyanawati dengan kemesraan yang sempurna.

Prabu Boma Narakasura

Kejadian yang berlangsung di kamar Dewi Hagyanawati itu akhirnya tercium juga oleh para prajurit Trajutrisna. Mereka segera melaporkan peristiwa itu kepada junjungannya. Prabu Boma Narakasora geram dan gusar. Dia tak akan merasa tenang jika belum berhasil menangkap lelaki pecundang yang dianggap telah menurunkan citra dan martabat negeri itu. Dalam keadaan emosional, Prabu Boma Narakasora segera memerintahkan kedua patihnya, Pancadnyana dan Suparwata, untuk menangkap “hidup atau mati” lelaki yang telah lancang ngrusak pager ayu kebahagiaan hidup seorang raja.

Tanpa mengalami banyak hambatan, Samba berhasil diringkus. Dalam keadaan setengah telanjang, Samba segera digiring dengan tubuh terikat menuju alun-alun di jantung kota. Penduduk Trajutrisna beramai-ramai mengerubunginya. Tanpa komando, mereka melempari Samba yang sudah tak berdaya dengan batu dan telor busuk. Setelah melapor kepada Prabu Boma, Patih Pancadnyana dan Suparwata diperintahkan uyntuk menghabisi Samba.

Mungkin begitulah takdir yang harus dijalani Samba, ksatria Paranggaruda yang juga sering dipanggil dengan sebutan Raden Gunadewa itu. Setelah mereguk kenikmatan surgawi bersama Dewi Hagyanawati, dia harus mengalami nasib tragis. Tubuhnya dicincang dan dijuwing-juwing oleh para prajurit Trajutrisna. Tanpa ampun lagi, Samba tewas mengenaskan setelah berbagai macam senjata menari-nari di atas tubuhnya.

Sementara itu, para prajurit Paranggaruda kalang kabut setelah mengetahui Raden Samba “raib” dari kamarnya. Mereka segera melaporkan kejadian itu kepada Prabu Kresna di Dwarawati. Belum hilang keterkejutan yang bersemayam di dada Kresna, tiba-tiba terdengar kabar Raden Samba telah tewas di tangan para prajurit Trajutrisna. Tanpa berpikir panjang, penguasa Dwarawati yang juga dikenal sebagai futurolog alias “ahli terawangan” itu segera berkelebat menuju negeri Trajutrisna dengan dikawal para petinggi dan satu batalyon prajurit tangguh.

Berkat kesaktian Kembang Wijayakusuma, Samba yang telah tewas dengan tubuh tak keruan bentuk, berhasil dihidupkan kembali oleh sang ayah. Rasa dendam dan sakit hati membikin Prabu Kresna terpaksa membuat perhitungan tersendiri dengan Boma Narakasora yang dianggap telah melanggar hak asasi pewayangan.

KRESNA

Kresna segera menyiapkan panah Cakra Baskara yang kecepatannya melebihi kehebatan pesawat Sukhoi. Setelah berhasil mengejar Boma, Kresna segera membidikkan panah andalannya ke tubuh Prabu Boma. Tak ayal lagi, tubuh besar dan kuat itu pun limbung tak berdaya.

Namun aneh! Begitu jasat itu menyentuh bumi, Prabu Boma kembali segar bugar; tertawa-tawa, mengejek. Kejadian itu terus berlangsung berulang-ulang. Kresna tahu, Boma memiliki kekuatan aji Pancasonabumi yang “antikematian” jika jasatnya menyentuh tanah.

Kresna tak kehilangan akal. Dia segera memasang jaring maut untuk Boma Narakasora. Dengan siasat semacam itu, jasat Boma mustahil menyentuh tanah. “Skenario” pun berjalan mulus. Dengan kepiawaian dan kesaktian yang dimilikinya, Prabu Kresna berhasil membidik tubuh Boma. Jasatnya melesat cepat menuju jaring maut yang telah dipasangnya. Tamatlah riwayat hidup Prabu Boma Narakasora. Obsesi Raden Samba untuk hidup berdampingan dengan Dewi Hagyanawati, pujaan hatinya, pun tercapai.

Namun, kemenangan Prabu Kresna justru menimbulkan masalah di negerinya sendiri. Para pengamat politik dan kalangan wakil rakyat menilai, tindakan semacam itu sangat tidak populer dalam kapasitasnya sebagai negarawan. Pertama, melestarikan dendam yang sangat tidak kondusif dalam mewujudkan perdamaian dunia pewayangan. Kedua, me-legal-kan perselingkuhan yang nyata-nyata telah menghancurkan kebahagiaan hidup berumah tangga. Meski demikian, Kresna tetap cuek. Dia yakin, kritik dan kecaman semacam itu akan hilang dengan sendirinya di tengah silang-sengkarutnya persoalan multidimensi yang tak kunjung usai di negerinya. Apalagi, wakil rakyat juga belum mampu berkelit dan membebaskan diri dari iming-iming dhuwit dan kemewahan. Dus, untuk membungkam kritik dan kecaman semacam itu bukan hal yang sulit bagi Kresna.

Ki sawali Tuhusetya




Arogansi Tumenggung WilmunaFeb 1, '10 6:45 PM
for everyone
Bomanarakasura


Mata Tumenggung Wilmuna melotot. Jidatnya yang lebar berkerut-kerut. Belum tuntas berita dalam majalah itu dibaca, buru-buru dibanting keras-keras di atas meja kerjanya yang mengkilat. Wayang separo baya itu segera memanggil salah seorang staf kepercayaannya untuk menghadap.

“Bapak memanggil saya?” tanya stafnya sembari menatap penuh kecemasan. Tubuhnya yang kurus membungkuk dalam-dalam.

“Duduk!” perintah Tumenggung Wilmuna dengan muka merah dadu. Staf yang masih muda itu dengan sangat sopan segera menunduk hormat, lalu dengan gerak pelan segera menggeser kursi. Dadanya berdenyar-denyar.

“Coba baca majalah ini!” seloroh Tumenggung Wilmuna sambil menjatuhkan majalah di hadapan stafnya yang dilanda kecemasan. Dengan sangat hati-hati, majalah itu dibacanya. Keningnya berkerut.

“Paham, kan?” sergah Tumenggung Wilmuna mengagetkan stafnya yang lagi asyik membaca berita dalam majalah itu. “Berita ngawur itu! Sepihak! Tanpa konfirmasi dulu! Masak sih persoalan privacy seorang raja di-ekspose secara murahan kayakgitu?” berondong Tumenggung Wilmuna dengan mata nanar. Stafnya yang kurus itu semakin tak sanggup menutupi kecemasannya. Ia bagaikan ditelanjangi. Wayang kurus itu hanya bisa diam. Telinganya panas seolah berondongan pertanyaan itu ditujukan pada dirinya.

“Jangan sampai majalah murahan itu jatuh ke tangan publik. Dampaknya, tentu sangat riskan. Wibawa dan kharisma beliau bisa anjlog di mata rakyat Traju Trisna. Paham Kamu? Secepatnya, suruh semua agen majalah itu tutup! Jika macem-macem, sikat saja!” Berkata demikian, Tumenggung Wilmuna beranjak dari kursi empuknya, lalu mojok di sudut kamar kerjanya sembari menatap lukisan abstrak yang sulit dimaknainya. Stafnya hanya bisa geleng-geleng.

“Ayo, cepaaaat!” bentak Tumenggung Wilmuna ketika melihat stafnya masih ngungun di atas kursi. Dengan tergopoh-gopoh sopan, wayang kurus itu segera berjingkat keluar kamar kerja atasannya. Wajahnya diselimuti kecemasan yang dahsyat. Ia tahu persis tabiat atasannya. Perintah dan komando wajib hukumnya dilaksanakan tanpa komentar, tanpa cacat. Jika tak beres, jangan harap bisa dlimik-dlimik di kantor yang megah itu. Para wayang yang mengabdi di tempat itu sangat paham bahwa Tumenggung Wilmuna adalah pejabat yang perfeksionis.

Alhasil, dalam waktu singkat, majalah ibukota bertiras lumayan itu hilang dari peredaran. Majalah itu telah dianggap merusak kehidupan istana yang pantang dipublikasikan. Lantaran dengan blak-blakan, bahkan vulgar, mengungkap kasus perselingkuhan Nyonya Hagyanawati dengan ksatria Paranggaruda, Raden Samba, yang notabene adalah adik Raja Boma sendiri.

Para pelanggan uring-uringan. Mereka yang haus informasi mengumpat-umpat. Kasus di-cekal-nya majalah yang cukup berpengaruh itu akhirnya tercium juga oleh wartawan, baik media cetak maupun elektronik. Tanpa dikomando, para pemburu berita itu berbondong-bondong menyerbu kantor katumenggungan. Untuk menghilangkan kesan anti-keterbukaan, Tumenggung Wilmuna segera memberikan keterangan pers.

“Majalah murahan ya begitu itu! Memuat berita tanpa konfirmasi dulu!” komentar Tumenggung Wilmuna menjawab pertanyaan seorang wartawan tentang di-cekal-nya majalah tersebut.

“Tapi dalam laporan itu kan sudah jelas diketahui dari ucapan Nyonya Hagyanawati! Jadi, bukan sekadar isu lagi, Pak!” desak wartawan yang lain.

“Ah, omong kosong itu! Apalagi ini menyangkut citra seorang pejabat. Jika ada koran, majalah, atau televisi yang menjelek-jelekkan raja, langkahi dulu mayat saya! Apa sih untungnya? Cari sensasi? Bisa kubredel media kalian!” tegas Tumenggung Wilmuna. Para wartawan blingsatan. Beberapa media segera memuat pernyataan Tumenggung Wilmuna itu dalam headline berita. Para pakar diburu untuk mengomentari pernyataan tersebut. Sebagian besar menyatakan bahwa tindakan Tumenggung Wilmuna merupakan cermin seorang pejabat yang menggunakan aji mumpung dan penjilat atasan.

Menyadari posisinya yang tengah jadi sorotan pers dan publik, Tumenggung Wilmuna buru-buru menghadap Raja Boma Narakasura di istana pribadinya yang mewah dan megah. Itu memang sudah jadi tradisi sang Tumenggung. Antara tugas kedinasan dan masalah pribadi tak ada bedanya.

“Mengapa sih Saudara nekad berbuat seperti itu? Sikap Saudara justru telah menodai demokrasi dan keterbukaan yang ingin saya bangun di Traju Trisna ini!” komentar Raja Boma yang bertubuh gempal berkumis lebat itu mengenai sikap Tumenggung Wilmuna yang men-cekal sebuah majalah. Tumenggung Wilmuna tersentak. Namun, dengan cepat segera membenahi cara duduknya.

“Maaf, Pak! Ini semata-mata saya lakukan demi menjaga nama baik Bapak sekeluarga!” jawab Tumenggung Wilmuna sembari menunduk dalam-dalam.
Agnyanawati

“Mbok biarkan saja pers berbuat seperti itu, wong kenyataannya memang demikian, kok! Buat apa kita harus methentheng, sok suci, sok baik, padahal kenyataannya nol?” sahut Raja Boma sambil menatap tajam Tumenggung Wilmuna yang terus menunduk. Sang Tumenggung benar-benar tak menduga kalau akan dicocor dengan pernyataan sang Raja yang demikian pedas.

“Jadi, langkah saya salah, Pak?”

“Jelas!”

“Kalau begitu, sekali lagi maaf, Pak!” kata Tumenggung Wilmuna sambil berusaha untuk tersenyum.

“Ah, sudahlah! Kita bicara soal tugas-tugas kenegaraan!” sahut Raja Boma seakan mengerti benar perasaan yang berkecamuk di dada tumenggungnya yang dikenal arogan di mata rakyat Traju Trisna itu.

“Masih ada satu persoalan lagi, Pak!” kata Tumenggung Wilmuna setelah denyut jantungnya teratur. Raja Boma mengerutkan alisnya. “Raden Samba itu sama halnya telah melakukan pelecehan terhadap perempuan, Pak! Apalagi, yang diserobot itu istri Bapak! Jangan-jangan setelah bosan, istri saya disikatnya juga, Pak!” lanjut Tumenggung Wilmuna serius.

“Apa maksud Saudara?” sahut Raja Boma. Matanya tajam menatap Tumenggung Wilmuna yang tersenyum dibuat-buat.

“Dibuat mampus saja, Pak, agar tak ada lagi lelaki rakus semacam Raden Samba yang dhemen mengendus-endus perempuan!”

“Saudara sangat ngawur! Dia kan adikku sendiri?”

“Lho, katanya ingin membangun demokrasi dan keterbukaan, Pak. Ya, jangan pandang bulu! Meski saudara sendiri jika bersalah tak boleh luput dari jerat hukum!” tegas Tumenggung Wilmuna. Perasaannya tiba-tiba saja terasa plong seperti baru saja melepaskan beban yang teramat berat. Wayang penjilat itu bisa berkata-kata sedemikian fasihnya. Raja Boma manggut-manggut, membenarkan ucapan Tumenggung Wilmuna.

Dialog dan tukar pikiran dua tokoh teras di Traju Trisna itu sesekali berlangsung menegangkan. Namun, berkat argumen dan kefasihan Tumenggung Wilmuna bersilat lidah, Raja Boma seringkali tak berkutik. Akhirnya, sang Raja menyatakan persetujuannya. Raden Samba harus di-dor agar pelecehan terhadap kaum perempuan tak merajalela. Karena dirasa cukup, Tumenggung Wilmuna segera kabur dari istana Raja Boma.

Sementara itu, di Kesatrian Paraggaruda, sepasang wayang muda tengah asyik bercengkerama. Nyonya Hagyanawati yang nekad kabur dari sisi Raja Boma tak jemu-jemunya bergelayut di pundak Raden Samba yang tegap dan kukuh.

SAMBA

“Kenapa sih Dinda lebih menyukai aku ketimbang Mas Boma?” tanya Raden Samba.

“Habis gimana, yah? Hidup bersama Mas Boma memang serba ada. Semua fasilitas komplit. Tapi …. emmm … aku kan juga perempuan normal, Mas. Butuh kemesraan. Gimana bisa mesra kalau kenyataannya Mas Boma, aduh …. nggak bisa menjalankan tugasnya sebagai lelaki sejati!” sahut Nyonya Hagyanawati lembut dan romantis. Raden Samba tersentak. Tapi dengan cepat dia mampu mengendalikannya ketika hidung perempuan sintal itu menyentuh pipinya. Lalu, dengan dekapan yang lembut *weks :twisted: * disambutnya sinyal asmara itu.

Belum sempat mereka menuntaskan gelegak asmara yang menyumbat di dada, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang ajudan. Dilaporkan bahwa ada tamu penting dari Traju Trisna yang hendak menghadap. Wajah mereka tersipu dan saling berpandangan.

Di ruang tamu, Raden Samba melihat seorang lelaki yang amat dikenalnya duduk di kursi dengan mata jelalatan menatap lukisan di dinding.

Tumenggung Wilmuna kaget ketika Raden Samba menyapanya. Lalu, dengan tingkah dibuat-buat, segera memperbaiki tempat duduknya. Tanpa basa-basi, orang kedua di Traju Trisna itu segera mengutarakan maksud kedatangannya. Dengan rekayasa yang sudah terskenario matang, Tumenggung Wilmuna mengajak Raden Samba ke wilayah Traju Trisna untuk ikut menyelesaikan masalah kenakalan remaja yang belakangan ini dinilai makin liar dan bringas.

Tanpa berprasangka buruk, Raden Samba segera kabur ke Traju Trisna setelah berpamitan dengan Nyonya Hagyanawati. Ketika hendak memasuki wilayah Traju Trisna, alangkah terkejutnya ketika Raden Samba mendengar suara tembajan diikuti dengan meletusnya ban mobil yang dikendarainya. Raden Samba buru-buru turun.

Baru saja menginjakkan kakinya ke tanah, tiba-tiba beberapa tangan yang perkasa mencengkeram dan menggelandangnya. Lalu, diikuti berondongan peluru di sekujur tubuhnya. Tanpa ampun lagi, tubuh Raden Samba terkapar mencium bumi. Tubuhnya tatu arang kranjang tertembus peluru.


Ki sawali Tuhusetya
0 comments


Bima Suci, Guru yang TernistakanFeb 1, '10 10:59 AM
for everyone
Suasana negeri Hastina mendadak gerah. Angin kemarau yang meluncur dari Gunung Argakelasa seperti memancarkan aura panas yang membadai dan mengancam. Pepohonan kering dan meranggas. Bumi Hastina seperti dihantam badai panas dan kekeringan yang panjang dan dahsyat. Istana Hastina yang biasanya sejuk dan nyaman pun tak sanggup membendung badai panas yang terus meluncur dari lereng sebuah gunung di perbatasan itu. Presiden Duryudana yang tengah sibuk memimpin sidang Kabinet Hastina berkali-kali mengelap jidatnya yang panas dan basah. Entah, sudah berapa helai selampai yang masuk ke keranjang sampah.

“Pak Wapres, kemarau tahun ini rasanya kok beda dengan biasanya. Saya yakin ini pasti ada yang tidak beres!” sergah sang Presiden di tengah kecamuk suasana ruang kerjanya yang gerah.

“Walah, walah, bisa jadi benar, Bapak. Mungkin ada pihak yang dengan sengaja hendak mencelakai kita!” jawab Sengkuni, sang Wapres dengan mulut setengah menganga sembari cengengesan.

“Tapi maaf, Bapak Presiden. Menurut hasil penelitian dari staf kami, tingginya panas di Hastina ini akibat ulah para pengemplang hutan yang dengan sewenang-wenang mengeksploitasi hutan seenaknya, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan,” sahut Aswatama, Menteri Lingkungan Hidup, dengan wajah tertunduk.

“He, apa maksud Pak Menteri? ”

“Mmm ….. begini, Pak. Berdasarkan hasil penelitian para staf di kementerian, eksploitasi hutan di Hastina sudah berada di ambang batas kehancuran. Jika tidak segera dihentikan, bencana demi bencana akan terus terjadi. Panas dan kekeringan tahun ini menjadi salah satu dampaknya. Demikian, informasi yang saya terima. Berikut ini laporan lengkapnya!” jawab Aswatama sambiol menyerahkan segepok laporan.

Mata Presiden Duryudana membelalak. Dalam laporan itu, tertulis jelas nama-nama perusahaan yang dinilai sudah melakukan pelanggaran. Padahal, mereka yang berada di balik perusahaan itu adalah sebuah konglomerasi kelas kakap yang selama ini telah memberikan banyak kemudahan dan fasilitas kepada dirinya dan keluarganya. Wajah sang Presiden yang gerah itu mendadak memerah. Rahangnya yang kokoh makin mengeras.

“Saya tidak percaya! Laporan ini jelas mengada-ada. Saya justru curiga, jangan-jangan Pak Aswatama hanya ingin buat sensasi murahan. Mereka yang saya beri wewenang untuk mengelola hutan di Hastina adalah sosok yang benar-benar terpercaya. Pak Wapres, bagaimana pendapat Sampeyan!” Para anggota kabinet serentak membelalakkan bola mata. Mereka seperti tengah menyaksikan sang Presiden yang sedang berada dalam amarah yang memuncak. Mereka serentak menundukkan kepala sambil mencuri pandang dengan sesama koleganya.

“Wah, apa yang Bapak sampaikan itu benar adanya. Pak Aswatama pasti sudah keliru dalam menyampaikan laporan. Pantas saja, Pak Aswatama ini kan putra kesayangan Bapak Guru Durna yang bermuka dua. Lahirnya berpihak kepada Kurawa, tetapi hatinya sesungguhnya hanya untuk Pendawa!” sahut Sangkuni dengan sorot mata yang licik.

“Stop! Pak Wapres jangan bawa-bawa ayah saya dalam persoalan ini. Apa yang saya laporkan benar-benar berdasarkan falta yang sudah bertahun-tahun lamanya dikumpulkan dan diverifikasi!” sergah Aswatama dengan tatapan mata tajam ke wajah Sengkuni.

“Cukup! Apa pun isi laporan itu, saya tidak percaya! Sekarang bubar!” bentak sang Presiden.


Baru saja para menteri beranjak dari tempat duduk, mendadak seorang tentara dengan sikap tegap dan sempurna menghadap kepada Presiden Duryudana.

“Lapor! Di luar sana, para penduduk berbondong-bondong menuju lereng Gunung Argakelasa! Laporan selesai!”

Bola mata Duryudana kembali liar dan membelalak. Penguasa Hastina itu segera mengerlingkan bola matanya dan mengajak sang Wapres menuju ruang pribadinya. Tak tahu pasti, apa yang sedang mereka perbincangkan. Yang pasti, keesokan harinya, terjadi kegemparan di lereng Gunung Argakelasa.
***

Konon di salah satu lereng Gunung Argakelasa, berdiri sebuah sekolah darurat sebagai sekolah alternatif untuk memberikan bekal keilmuan kepada para generasi muda Hastina yang selama ini gagal tercerahkan ketika menuntut ilmu di bangku pendidikan formal. Institusi pendidikan tersebut didirikan oleh Bima Suci, seseorang yang mengaku telah mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup dari Sang Hyang Wenang. Visi pendidikan yang diluncurkan adalah melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, bermoral, bermartabat, berbudaya, religius, demokratis, dan berwawasan kebangsaan. Itulah pesan yang harus dijalankan oleh sang Bima Suci sebagai bagian dari darma dan laku hidupnya. Karena visinya yang dinilai tampil beda dan menjanjikan sebuah perubahan, banyak murid Hastina yang selama ini duduk di bangku pendidikan formal, berbondong-bondong pindah ke sekolah darurat. Bahkan, banyak penduduk dari negeri lain yang menyekolahkan anaknya ke sekolah yang tak pernah mengenal ujian nasional itu. Setiap murid diberikan kebebasan untuk mengembangkan diri sesuai dengan minat dan potensinya. Guru hanya sekadar jadi fasilitator dan mediator yang ramah kepada siswa didik.

Situasi pendidikan alternatif yang dianggap “memberontak” seperti itu jelas membuat penguasa Hastina gerah. Sudah jadi rahasia umum bahwa pendidikan formal di negeri Hastina tak lebih dari sebuah lembaga yang sengaja didesain untuk melahirkan “generasi kacung” yang harus selalu tunduk pada kemauan dan selera sang penguasa. Para murid di-indoktrinasi untuk menjadi generasi anak mami, bukan generasi yang cerdas dan kritis. Tugas pelajar adalah menjadi penghafal kelas wahid, untuk selanjutnya diuji secara massal dalam sebuah ujian nasional yang sarat dengan kecurangan dan manipulasi. Ironisnya, ujian yang salah urus seperti itu menjadi salah satu kebanggaan kemajuan Hastina melalui parameter kenaikan bobot kelulusan dari tahun ke tahun. Akibat atmosfer pendidikan yang amburadul seperti itu, masa depan generasi muda Hastina makin tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan. Hanya penguasa yang boleh pintar dan cerdik mengatur orang. Tak heran jika dari tahun ke tahun, keluaran pendidikan formal negeri Hastina hanya bisa menjadi kacung di negeri orang dengan nasib tak menentu. Merek sering disakiti dan dinistakan. Hastina tak ingin mengubah nasib para kacung itu, sebab takut kehilangan pundi-pundi devisa yang selama ini terus mengucur ke dalam kantong sang penguasa.

Karena tak ingin menjadi kerikil bagi penguasa Hastina dalam mengindoktrinasi dan “mencuci otak” generasi masa depan Hastina, maka dengan segenap kekuatan dan daya ikhtiar, Sengkuni segera memerintahkan tentara Hastina untuk menutup dengan paksa sekolah yang didirikan oleh Bima Suci itu. Terjadi perlawanan sengit. Ribuan murid yang mengatasnamakan dirinya “Laskar Lereng Argakelasa” menghadang tentara Hastina di bawah komando Sengkuni yang bersenjata lengkap. Para murid serentak membentuk barikade untuk mengamankan dan menyelamatkan sang Bima Suci, guru yang amat mereka cintai dan idolakan, dari kekerasan tentara Hastina. Namun, perlawanan “Laskar Lereng Argakelasa” sia-sia. Mereka gagal menghentikan amarah para tentara yang demikian buas dan liar memberondongkan timah panas ke barisan para laskar. Beberapa di antara mereka telah terkapar mencium tanah. Mereka pun tak sanggup berbuat apa-apa ketika para tentara Hastina menggelandang dan menyeret sang Bima dalam keadaan tangan terborgol.

Namun, nasib sang Bima terselamatkan oleh kehadiran pasukan Pendawa yang dipimpin sang veteran Semar yang sudah lama sekali tidak menampakkan batang hidungnya ke tengah publik. Dengan sisa-sisa kepiawaiannya dalam berdiplomasi, Semar menyatakan bahwa sesungguhnya sang Bima Suci adalah Bima, putra Pendawa, yang tengah menjalankan misi dan darma pengabdian hidup sesuai dengan amanah Sang Hyang Wenang dalam sebuah pengembaraan yang amat dramatis di tengah samudra. Namun, rupanya Sengkuni tetap bersikukuh untuk mengadili sang Bima Suci yang dianggap telah melakukan tindakan subversif dengan mencekoki doktrin-doktrin membahayakan kepada generasi muda Hastina.

Suasana percek-cokan antara Semar dan Sengkuni membuat pengawasan para prajurit Hastina terhadap Bima mengendur. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Bima berteriak garang hingga borgol yang membelenggunya terlepas. Lantas, dengan amarah yang memuncak, Bima mengamuk membabi buta. Para prajurit Hastina terkesiap. Mereka tak menduga kalau Bima bakal melakukan serangan balik yang begitu telak. Dengan pentungan di tangan, putra penengah Pendawa itu terus berteriak dan memutar pentungan laksana kitiran hingga membuat Sengkuni dan prajuritnya kalang kabut.

Ki sawali Tuhusetya



SugriwaJan 31, '10 7:48 AM
for everyone
SUGRIWA

Sugriwa dikenal pula dengan nama Guwarsa (pedalangan). Ia merupakan putra bungsu Resi Gotama dari pertapaan Erraya/Grastina dengan Dewi Indradi/Windardi, bidadari keturunan Bathara Asmara. Sugriwa mempunyai dua orang saudra kandung masing-masing bernama : Dewi Anjani dan Subali.

Setelah menjadi wanara/kera, dalam perebutan Cupumanik Astagina, Sugriwa diperintahkan ayahnya untuk bertapa Ngidang (hidup sebagai kijang) di dalam hutan Sunyapringga apabila menginginkan kembali berwujud manusia. Atas jasa Resi Subali yang berhasil membunuh Prabu Maesasura dan Jatasura, Sugriwa dapat memperistri Dewi Tara dan menjadi raja di kerajaan Gowa Kiskenda serta wadya/ balatentara kera. Prabu Sugriwa juga menikah dengan Endang Suwarsih, pamong Dewi Anjani dan memperoleh seorang putra berwujud kera yang diberi nama Kapi Suweda.

Dewi Tara dan kerajaan Kiskenda pernah direbut oleh Resi Subali yang terkena hasutan jahat Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Dengan bantuan Ramawijaya yang berhasil membunuh Resi Subali dengan panah Gowawijaya, Sugriwa berhasil mendapatkan kembali Dewi Tara dan negaranya. Sebagai imbalannya, Sugriwa mengerahkan prajurit keranya membantu Ramawijaya membebaskan Dewi Sinta dari sekapan Prabu Dasamuka.

Ketika berlangsungnya perang Alengka, Sugriwa tampil sebagai senapati perang Prabu Rama. Ia berhasil membunuh beberapa senapati perang Alengka, antara lain; Pragasa, Kampana dan Gatodara. Setelah perang berakhir, Sugriwa kembali ke Gowa Kiskenda, hidup bahagia dengan istrinya, Dewi Tara. Ia tidak bisa kembali kewujud aslinya sebagai manusia, karena penyerahan dirinya kepada Dewata belum sempurna, masih terbelenggu oleh kenikmatan duniawi.

---------------


Sugriwa (Sanskerta: सुग्रीव; Sugrīva) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana. Ia adalah seorang raja kera dan merupakan seekor wanara. Ia tinggal di Kerajaan Kiskenda bersama kakaknya yang bernama Subali. Ia adalah teman Sri Rama dan membantunya memerangi Rahwana untuk menyelamatkan Sita.

Nama Sugriwa dalam bahasa Sanskerta (Sugrīva) artinya adalah "leher yang tampan".

Perebutan kekuasaan

Pada suatu ketika, rakshasa bernama Mayawi datang ke Kiskenda untuk menantang berkelahi dengan Subali. Subali yang tidak pernah menolak jika ditantang berkelahi menyerang Mayawi dan diikuti oleh Sugriwa. Melihat lawannya ada dua orang, raksasa tersebut lari ke sebuah gua besar. Subali mengikuti raksasa tersebut dan menyuruh Sugriwa menunggu di luar. Beberapa lama kemudian, Sugriwa mendengar suara teriakan diiringi dengan darah segar yang mengalir keluar. Karena mengira bahwa Subali telah tewas, Sugriwa menutup gua tersebut dengan batu yang sangat besar agar sang raksasa tidak bisa keluar. Kemudian Sugriwa kembali ke Kiskenda dan didesak untuk menjadi raja karena Subali telah dianggap tewas.

Sugriwa dalam sebuah lukisan India bergaya Maharashtra

Saat Sugriwa menikmati masa-masa kekuasaannya, Subali datang dan marah besar karena Sugriwa telah mengurungnya di dalam gua. Merasa bahwa ia dikhianati, Subali mengusir Sugriwa jauh-jauh dan merebut istrinya pula. Sugriwa dengan rendah hati minta ma'af kepada Subali, namun permohonan ma’afnya tidak diterima Subali. Akhirnya Subali menjadi raja Kiskenda sedangkan Sugriwa beserta pengikutnya yang setia bersembunyi di sebuah daerah yang dekat dengan asrama Resi Matanga, dimana Subali tidak akan berani untuk menginjakkan kakinya di daerah itu.

Ukiran di kuil Banteay Srei di Kamboja, menggambarkan
pertempuran antara Sugriwa dan Subali.
Di sebelah kanan, Rama bersiap-siap memanah Subali.


Persahabatan dengan Rama

Dalam masa petualangan mencari Sita, Rama dan Laksmana menyeberangi sungai Pampa dan pergi ke gunung Resyamuka, sampai akhirnya tiba di kediaman para wanara. Sugriwa takut saat melihat Rama dan Laksmana sedang mencari-cari sesuatu, karena ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk mencari dan membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa mengutus keponakannya yang bernama Hanoman untuk menyelidiki kedatangan Rama dan Laksmana. Setelah mengetahui bahwa Rama dan Laksmana adalah orang baik, Hanoman mempersilakan mereka untuk menemui Sugriwa. Di hadapan Rama, Sugriwa menceritakan masalah dan masa lalunya. Sugriwa juga mengutarakan permohonannya untuk merebut istri dan kerajaannya kembali. Akhirnya Rama dan Sugriwa menjalin persahabatan dan berjanji akan saling membantu satu sama lain. Setelah menyusun suatu rencana, mereka datang ke Kiskenda.

Di pintu gerbang istana Kiskenda, Sugriwa berteriak menantang Subali. Karena merasa marah, Subali keluar dan bertarung dengan Sugriwa. Setelah petarungan sengit berlangsung beberapa lama, Sugriwa makin terdesak sementara Subali makin garang. Akhirnya Rama muncul untuk menolong Sugriwa dengan melepaskan panah saktinya ke arah Subali. Panah sakti tersebut menembus dada Subali yang sekeras intan kemudian membuatnya jatuh tak berkutik. Saat sedang sekarat, Subali memarahi Rama yang mencampuri urusannya. Ia juga berkata bahwa Rama tidak mengetahui sikap seorang ksatria. Rama tersenyum mendengar penghinaan Subali kemudian menjelaskan bahwa andai saja Subali tidak bersalah, tentu panah yang dilepaskan Rama tidak akan menembus tubuhnya, melainkan akan menjadi bumerang bagi Rama. Setelah mendengar penjelasan Rama, Subali sadar akan dosa dan kesalahannya terhadap adiknya. Akhirnya ia merestui Sugriwa menjadi Raja Kiskenda serta menitipkan anaknya yang bernama Anggada untuk dirawat oleh Sugriwa. Tak berapa lama kemudian, Subali menghembuskan nafas terakhirnya.


Rama dan laksmana bertemu Sugriwa. Lukisan dari Paithan, Maharashtra

Usaha penyelamatan Sita

Setelah Subali wafat, Sugriwa bersenang-senang di istana Kiskenda, sementara Rama dan Laksmana menunggu kabar dari Sugriwa di sebuah gua. Karena sudah lama menunggu, Rama mengutus Laksmana untuk memperingati Sugriwa agar memenuhi janjinya menolong Sita. Tiba di pintu gerbang Kiskenda, Sugriwa yang diwakili Hanoman meminta ma'af kepada Rama karena melupakan janji mereka untuk mencari Sita. Akhirnya Sugriwa mengerahkan prajuritnya yang terbaik untuk menjelajahi bumi demi menemukan Sita. Prajurit pilihan Sugriwa terdiri dari Hanoman, Nila, Jembawan, Anggada, Gandamadana, dan lain-lain. Mereka menjelajahi daerah selatan India dan sampai di sebuah pantai. Atas petunjuk Sempati, Hanoman terbang ke Alengka dan mendapati bahwa Sita ada di sana dan ditawan oleh Rahwana. Saat berita tersebut sampai ke Kiskenda, Sugriwa langsung mengerahkan tentara wanaranya untuk menggempur Alengka dan membunuh Rahwana. Ketika perjalanan tentaranya terhambat di tepi pantai, Sugriwa mengerahkan prajurit-prajuritnya untuk membangun sebuah jembatan besar yang diberi nama "Situbanda". Akhirnya saat sampai di Alengka, Sugriwa bersama prajurit wanara lainnya membunuh para prajurit andalan Rahwana.

Setelah perang antara Rama dan Rahwana usai, Sugriwa beserta para wanara dari Kiskenda diundang ke Ayodhya. Di sana mereka diberi tanda penghargaan atas jasa-jasanya. Atas anugerah Dewa Indra, para wanara yang gugur di medan perang hidup kembali.
0 comments

Sugriwa - Subali, Anak Tanggung Yang Kena NarkotikJan 25, '10 9:41 AM
for everyone
RESI GOTAMA

Syahdan ; seorang pendeta waskita bernama Resi Gotama beristerikan seorang bidadari bernama Batari Indradi. Walaupun di gunung tak ada beauty salon, namun kecantikan dan kegenitannya membuat orang yang melihatnya terpaksa menelan ludah. Kalau ia di sini pasti dipilih menjadi nomor "wahid", sebagai wanita berbusana indah, apa lagi kalau ikut kontes ratu-ratuan ayu. Tetapi sayang, suami selalu sibuk kerja lembur dalam kepanditaannya, terus menekung, sampai ia lupa bahwa isterinya yang cantik berada di rumah seorang diri.

Dalam kekosongan inilah, dewa Matahari tergiur oleh kecantikannya, sehingga melakukan intervensi dengan memberi kenang-kenangan berupa Cupu Manik Astagina, yaitu bola dunia yang gemerlapan sebagai wadah hidup dan segala kehidupan. Namun betapapun rapat rahasia tersebut disimpan, akhirnya toh "konangan". Saking marahnya, Indradi dikutuknya menjadi batu. Bahkan pensil bibir, pulas alis, bulu mata, kutek ramuan obat tradisi disebar keluar rumah. Pendek kata "brokenhome". Sedang ketiga anaknya yang bernama Guwarsi alias Subali, Guwarsa alias Sugriwa dan Anjani akhirnya diusir juga dari rumah sambil bersabda:

"Siapa yang menemukan bola ajaib yang saya lempar ini, akan menjadi pemiliknya."

Kemudian ketiga anaknya itu lari tunggang-langgang mengejar untuk mendapatkannya. Bola rahasia jatuh di tanah pangkuan ibu pertiwi berubah menjadi sebuah telaga putih yang kemudian disebut Telaga Seta - Nirmala.

SUGRIWA

Guwarsa dan Guwarsi segera melompat ke dalam telaga, sedang Anjani menunggu di tepi telaga sambil mencuci kaki dan mukanya. Karena hausnya oleh panas terik matahari, mereka bertiga agaknya merasa nyaman nikmat menyenyam sejuk dan segarnya air Telaga Seta, seolah-oleh terbang rasanya, seperti manusia terkena suntikan narkotik. Namun akibatnya fatal, mereka berubah menjadi kera, sampai tidak mengenal kepada dirinya sendiri, apalagi kepada saudaranya.

Dunia Psikiatri menamakan kasus ini sebagai "Bapak selalu kerja lembur, ibu menyibuk diri melulu, anak kehilangan kepribadian dan keidentitasannya". Dengan tersayat dan rasa pilu mereka menangis tersedu-sedu menyesali apa yang telah terjadi.

SUBALI

Kian lama kian menyayat hati tangisnya. Untung dewa merasa iba kepada mereka, maka untuk kesembuhannya, oleh dewa mereka dikarantina dalam hutan. Sugriwa harus bertapa hidup meniru kijang, berjalan merangkak dan makan rerumputan. Subali meniru kelelawar, siang hari bergantung dipohon, kaki di atas dan kepada di bawah. Sedang Anjani menjalani hidup seperti katak, dengan telanjang merendam diri ke dalam air.

ANJANI

Hanya dengan pengorbanan yang luar biasa itulah, mereka akan dapat hidup kembali sebagai manusia biasa. Bahkan narpati Sugriwa kelak dapat menjadi Panglima perang yang mampu melakukan pendaratan amphibi di pantai Pancawati, yang tak kalah besarnya dengan pendaratan di pulau Ivojima dan di pantai Normandia pada tahun 1944.


Dari kisah Sugriwa-Subali ini dapat ditarik suatu pelajaran bahwa:

1. Bagi manusia yang akan olah tapa hendaknya janganlah setengah-setengah. Tetapi harus benar-benar dihayati dengan "cegah dahar lawan guling" dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mencegah makan dan nafsu syahwat. Cara memusnahkan nafsu-nafsu tersebut dalam cerita ini digambarkan Resi Gotama mengutuk Batari Indradi menjadi batu, sehingga Resi Gotama benar-benar seorang diri dan bebas dari segala nafsu keduniawian.

2. Seorang isteri yang melakukan perbuatan/menerima "cupu manik" dari orang lain akan berakibat fatal. Bahkan anak-anaknya yang tidak bersalahpun ikut menanggung akibatnya. Dalam cerita ini digambarkan Sugriwa Subali diusir dan tidak diakui sebagai anaknya Gotama. Pendek kata, keretakan rumah tangga dapat berakibat fatal bagi anak-anaknya.

3. Anak/orang yang telah tenggelam dalam kebudayaan asing yang dianggapnya dapat menikmati hidupnya, kalau tidak waspada juga akan berakibat fatal. ia akan lupa terhadap sesama bangsanya bahkan lupa terhadap dirinya sendiri. Pendek kata akan kehilangan identitas dan kepribadiannya.

IR SRI MULYONO

BUANA MINGGU, 29 FEBRUARI 1976



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar